Teka-teki hilangnya Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang di Gunung Slamet, akhirnya terungkap. Hasil visum luar di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga memperkirakan Syafiq telah meninggal dunia sekitar 15 hari sebelum jenazahnya ditemukan pada Kamis (15/1). Pemeriksaan juga menemukan adanya patah tulang pada bagian paha kiri korban.
Jenazah siswa SMA Negeri 5 Magelang itu ditemukan tim SAR gabungan di jalur punggungan Gunung Malang, dekat area Batu Watu Langgar. Lokasi penemuan berada di sekitar Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet.
Proses Evakuasi yang Penuh Tantangan
Proses evakuasi Syafiq berlangsung dramatis dan penuh tantangan. Tim gabungan harus mengubah rencana jalur evakuasi demi efisiensi waktu dan keselamatan personel. Awalnya, jenazah direncanakan dibawa melalui jalur Dipajaya, Pemalang. Namun, keputusan akhir menggeser rute ke arah jalur Purbalingga.
Rescuer Kantor SAR Semarang Unit Siaga Semarang, Handika Hengki, menjelaskan, keputusan tersebut diambil karena kondisi medan yang ekstrem. “Dengan berbagai pertimbangan, tim evakuasi akhirnya menggeser evakuasi jenazah pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan melalui jalur Purbalingga, apalagi kondisi cukup medan yang cukup berat, terjal dan disertai hujan serta kabut tebal,” ujar Handika.
Rombongan tim evakuasi baru berhasil mencapai Pos 1 jalur pendakian Purbalingga pada Kamis (15/1) sekitar pukul 14.20 WIB. Ratusan warga, relawan, dan keluarga korban telah menunggu sejak pagi dalam suasana penuh haru.
Hasil Pemeriksaan Forensik Ungkap Kondisi Jenazah
Setibanya di RSUD Goeteng Taroenadibrata, tim medis segera melakukan pemeriksaan fisik. Dokter Forensik, dr. Gunawan, mengungkapkan bahwa kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan lanjut. “Hari ini pemeriksaan yang kami lakukan adalah visum luar yakni dari kepala hingga ujung kaki, identifikasi awal, korban berjenis kelamin laki-laki,” kata Gunawan.
Ia menjelaskan, keberadaan belatung dengan ukuran mencapai 1,5 sentimeter menjadi indikator bahwa korban sudah meninggal dunia sekitar dua minggu sebelum pemeriksaan. Meskipun mengalami pembusukan di area kepala hingga perut, dokter tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan.
Namun, tim medis menemukan adanya cedera fisik pada bagian kaki korban. “Secara visual terlihat adanya deformitas atau perubahan bentuk bila dibandingkan dengan kaki kanan dan saat diraba memang terdapat tanda patah tulang,” tambah dr. Gunawan. Luka tersebut berukuran sekitar 6 x 5 sentimeter pada paha kiri.
Walaupun ditemukan patah tulang, dr. Gunawan menegaskan bahwa pihaknya tidak dapat memastikan apakah hal tersebut menjadi penyebab langsung kematian korban karena hanya dilakukan pemeriksaan luar.
Jenazah Diserahkan ke Keluarga
Setelah proses visum selesai, jenazah Syafiq segera diserahkan kepada pihak keluarga. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang.
Hingga Kamis (15/1) malam, suasana duka masih menyelimuti kediaman korban, di mana para pelayat terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir.

