Pemerintah Indonesia serius mewujudkan ambisi menjadi pusat rumput laut dunia. Langkah konkret ditandai dengan dimulainya pembangunan Pusat Riset Rumput Laut Tropis Internasional (International Tropical Seaweed Research Center/ITSRC) dan Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan di Desa Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek), Stella Christie, secara langsung melakukan peletakan batu pertama pembangunan fasilitas tersebut pada Kamis, 12 Februari 2026. Meskipun malam dan gerimis menyelimuti lokasi, semangat seluruh pihak yang terlibat tidak surut.

Inisiatif strategis ini telah digagas sejak Mei 2025, merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Universitas Mataram (Unram), dan dukungan penuh dari Kementerian Diktisaintek. Kehadiran ITSRC diharapkan mampu menghasilkan bibit rumput laut unggul yang akan memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat pesisir, khususnya di Lombok Timur.

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar keberadaan ITSRC dan para peneliti dapat “menghasilkan bibit rumput laut yang lebih unggul, yang tentunya akan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar khususnya, dan Lombok Timur secara umum.” Ia menambahkan bahwa Lombok Timur memiliki potensi besar dan kualitas rumput laut yang belum tergarap optimal.

  Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Soroti Harga Cabai Rawit Tembus Rp 120 Ribu per Kg di Pasar Sumbawa

Rektor Unram, Bambang Hari Kusumo, meyakini bahwa sambutan hangat Pemda Lombok Timur terhadap rencana pembangunan ITSRC dan Laboratorium akan berdampak positif pada pembangunan ekonomi masyarakat. ITSRC, sebagai pusat penelitian rumput laut tropis dunia yang berkolaborasi dengan peneliti global, diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan dalam upaya peningkatan kualitas dan produktivitas rumput laut.

Selain ITSRC, Bambang juga menyoroti Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan yang disebutnya sebagai satu-satunya di Indonesia dan merupakan bagian dari tujuh program pendidikan dokter spesialis di Unram. “Enam bulan kedepan sudah mulai membangun. Lahan lokasi pembangunan ini hibah Pemda Lombok Timur. Harapan kami kedepan, akan membuat masyarakat disini terlayani kesehatannya, dan mengembangkan kawasan untuk sentra produksi rumput laut,” ujar Bambang.

Wamen Stella Christie menekankan pentingnya dampak dari setiap inovasi. Menurutnya, peletakan batu pertama ini “bukan seremonial.” Ia menegaskan bahwa pemerintah melalui Kemendiktisaintek telah menggandeng dua institusi penelitian dunia terkemuka, yaitu Universitas California, Berkeley, dan Beijing Genomic Institute, yang merupakan yang terdepan dalam riset rumput laut dan pengembangannya.

  Bukan Sekadar Harga Beli, Ini Alasan Pemerintah Modern Beralih ke Sistem Sewa Kendaraan Dinas

“Peletakan batu pertama ini bukan seremonial. Kami sudah menggandeng industri nasional, agar bisa membentuk ekosistem rumput laut. Kami juga sudah merangkul dua kekuatan besar sains dunia di Amerika dan Cina. Ingat, tujuan riset untuk meningkatkan pengetahuan agar meningkatkan pendapatan dan perekonomian kita,” ungkap Wamen Stella.

Ia menambahkan bahwa setiap inovasi harus didasarkan pada riset, sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara dengan ekonomi kuat. Langkah ini merupakan bentuk kesungguhan pemerintah, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk membawa dampak perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan melalui sains dan teknologi.

Wamen juga menyoroti potensi menjanjikan rumput laut. Saat ini, Indonesia adalah produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, menguasai 75 persen pangsa pasar global. Nilai pasar rumput laut tropis mencapai USD 12 miliar atau lebih dari Rp 198 triliun, dan diproyeksikan terus meningkat seiring dengan semakin beragamnya teknologi hilirisasi, mulai dari pupuk, plastik, hingga bahan bakar seperti bio-avtur.

“Jika Indonesia tidak ada riset sains dan teknologi, Indonesia tidak akan dapat dari ribuan triliun yang berputar di perekonomian dunia,” tegasnya. Selain riset, pemerintah juga mengundang Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk membahas aspek ekonomi dan ketenagakerjaan, berharap masyarakat sekitar dapat mendukung dan berpartisipasi dalam pengembangan industri rumput laut di daerah ini.

50% LikesVS
50% Dislikes