Polemik program Calon Petani Calon Lahan (CPCL) Hilirisasi Jagung di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencuat setelah Wakil Ketua Umum Bidang Politik DPN Tani Merdeka, Wilfridus Yons Ebit, melayangkan kritik terbuka kepada Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago. Kritik tersebut disampaikan melalui unggahan di media sosial Facebook pada Rabu, 4 Februari 2026.
Dalam unggahan tersebut, Yons Ebit mendesak Bupati Sikka untuk segera berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pertanian Sikka guna mengajukan CPCL hilirisasi jagung. Ia bahkan memberikan batas waktu yang ketat.
“Juventus Prima Kago, Bupati Sikka, Adek, saya minta segera koordinasi sama Kadis Pertanian Sikka, segera ajukan CPCL hilirisasi jagung. Dan masih banyak program lainnya,” tulis Yons Ebit. Ia menambahkan, “Saya kasih batas waktu sampai tanggal 7 ini batas akhir pengajuan. Terlalu sederhana untuk Adek memikirkan hal yang sederhana untuk membantu masyarakat.”
Menanggapi polemik ini, salah satu perwakilan Komunitas Petani di Kabupaten Sikka, PL (56), menyatakan bahwa secara prinsip dorongan Yons Ebit untuk kepentingan petani adalah langkah yang benar. Namun, ia menyoroti cara penyampaian yang dinilai kurang elegan.
“Secara substantif, dorongan Yons Ebit untuk kepentingan petani adalah langkah yang benar,” kata PL. Ia melanjutkan, sebagai tokoh Tani Merdeka dan Komisaris di BUMN, Yons Ebit diharapkan dapat menyampaikan pandangan dengan lebih diplomatis.
“Publik mengharapkan diplomasi yang lebih elegan dan berbasis data melalui koordinasi tertutup ketimbang polemik terbuka yang justru berpotensi memicu kegaduhan dan risiko pelanggaran etik jabatan,” tutur PL.
PL juga memperingatkan bahwa jika gaya komunikasi konfrontatif ini terus dipertahankan, Tani Merdeka berisiko kehilangan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah. “Alih-alih dipandang sebagai jembatan aspirasi, organisasi ini bisa dicap sebagai entitas politik yang menggunakan tekanan publik untuk memaksakan agenda birokrasi,” tandasnya.

